Menulis bagi gw seperti healing. Menyembuhkan. Tidak jarang akhirnya gw mendapati diri gw yang sudah bersiap tidur, dengan lampu yang sudah dipadamkan, kemudian merangkak turun dari tempat tidur mencari pulpen dan secarik kertas, atau kadang langsung menulis di notes di telepon genggam. Bagi gw, segala kegelisahan tentang apapun terlalu sering muncul ketika gw bersiap tidur. Ketika gw selesai merapal do’a dan ucapan terima kasih kepada sang pencipta. Ketika gw sudah mulai menarik selimut dan menemukan posisi terbaik untuk terlelap. Kemudian, ting, seperti sebuah lampu yang menyala berbagai pikiran dan kegelisahan datang menghampiri gw. Terkadang, gw bisa melepaskan segalanya dengan berpura-pura sedang baik-baik saja dan tidak memikirkan apa-apa. Namun kadang, pikiran-pikiran itu dengan rakus menggerogoti relung pikiran, bahkan hingga ke jiwa, perasaan, yang kemudian semakin sesak dan butuh pelampiasan. Tidak jarang berbagai potongan kenangan, dialog yang pernah terjadi maupun yang hanya bayangan berputar di kepala. Hal-hal seperti itulah yang kemudian gw tulis di secarik kertas apapun yang gw temukan, atau di notes di telepon genggam. Tidak jarang perasaan-perasaan dan kenangan itu membuat gw tenggelam kemudian menangis, marah, ataupun tersenyum bahagia. Tulisan-tulisan itu, tercurahkan bersama emosi yang gw rasakan saat menulis. Emosi yang akhirnya dapat gw rilis. Hingga akhirnya gw bisa tenang terlelap. Tulisan-tulisan itu juga yang kadang gw bagikan di media sosial milik gw. Tapi tidak jarang juga, gw merasakan emosi dari apa yang gw lihat, dari apa yang gw dengar. Itulah kenapa terkadang gw bisa berdiam sebentar, kemudian menghasilkan sebuah tulisan walau berupa satu frase atau kalimat. Menulis bagi gw adalah healing. Media untuk merilis segala emosi. Kalo kamu, gimana? Apa dan gimana kamu merilis emosi mu?
Herwanda's
Jangan pikirkan apa yang akan kita tulis,tapi tulislah apa yang kita pikirkan. Sesuatu yang pernah kita ucapkan, akan mudah terlupakan, tapi apa yang kita tulis dapat kita baca kembali suatu saat nanti.
Jumat, 12 Juni 2020
Menulis, (bagi gw) Adalah Healing
Halo! Sudah begitu lama sejak terakhir kali gw menulis di blog ini. Gw gak tau gimana eksistensi blog dimasa ini, tapi ya, gw gak peduli. Gw hanya akan menulis apa yang mau gw tulis. Terima Kasih sudah mampir. Salam hangat :)
Menulis, (bagi gw) Adalah Healing.
Jumat, 02 Maret 2018
Let me tell you something: About My Job
Let me tell you something: About My Job
Source : dok. pribadi
Long time no see ya! Mungkin lapak ini sudah mulai kembali berdebu :) Sepertinya! Entahlah. Gw gak tau
menulis itu ada pada posisi mana dalam hidup gw. Hobi kah? Passion?
atau mungkin bukan keduanya. Gw hanya
menulis ketika gw ingin dan kepikiran
mengenai suatu hal yang kemudian ingin gw
bagikan kepada orang lain. So, this is
the story... lah sok iye!
Sekarang gw
ingin membahas tentang pekerjaan. Akhirnya yalord!
Setelah penantian yang cukup lama, I have
a job! Kata orang, pekerjaan terbaik itu adalah hobi yang dibayar. Dan
sepertinya itu juga berlaku bagi gw
saat ini, gak tau kalau sore, tunggu aja *loh!
Iya. Gw juga gak tau sih tapi sepertinya jalan-jalan atau traveling itu termasuk
hobi buat gw. Hobi adalah sesuatu
yang kita lakukan ketika kita punya waktu (dan uang) untuk itu kan? Setidaknya
begitu menurut gw. Jadi, beberapa
waktu lalu gw ditawari pekerjaan oleh
seorang teman. Tepatnya akhir Desember kemarin. Gak berasa sudah 2 bulan dan gw
enjoy disana. Mungkin sebagian besar orang sekitar gw sudah tahu bahwa keinginan terbesar gw dari dulu adalah bekerja di lapangan, apapun itu yang berkaitan
dengan alam. Pekerjaan gw saat ini
fokus pada pengembangan wisata herbal di daerah Puncak Bogor, tepatnya di Desa
Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Sebulan berlalu dan gw cukup puas dengan hasil kerja gw. Bagaimana tidak? My first
job, dari gw sendiri yang gak berani terlalu berekspektasi, kemudian
berhasil menjadi sesuatu yang jauh dari dugaan gw. It’s amazing, really! Namun
kepuasan dan kebahagian gw beserta
kawan-kawan disana tidak bertahan lama karena bencana banjir dan longsor pada
awal Februari lalu, semua yang telah kami bangun hanyut, habis sudah.
Teman-teman bisa cek instagram @wisatacitamiang.
Yah! Namanya juga hidup kan? Manusia berencana, tapi
tuhan yang paling berkuasa. Bisa dipastikan banyak orang terpukul dengan
bencana tersebut. Tidak terkecuali dengan mereka yang sudah datang berkunjung dan
ber-selfie ria disana. Tapi waktu
berjalan dan hidup akan terus berlanjut. Beberapa hari setelah kejadian, dengan
mengumpulkan kepingan demi kepingan harapan dan semangat yang dimiliki,
perlahan kami mulai melakukan pembenahan lokasi. Kemudian berlanjut pada
perencanaan ulang lokasi dengan bentang alamnya berubah drastis, aliran sungai
yang bergeser, batu-batu besar yang memenuhi sebagian kawasan wisata, semuanya
kembali ke awal. Yaks! Kenapa jadi
terkesan curhat dan berakhir
melankolis gini ya? :)
Kembali kepada pekerjaan gw. Dulu, sekitar 3 atau 5 bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk
ikut bergabung dalam proyek ini, gw sudah pernah ditawari hal yang sama oleh
teman gw ini. Namun gw dengan ke-sok-tau-an gw terhadap diri sendiri menolak untuk bergabung.
Alasannya, gw gak paham tanaman
herbal (padahal saat kuliah sedikit banyak belajar). But look! Beberapa bulan setelahnya, dengan menekan ke-sok-idealis-annya gw, gw berhasil disana. Iya! Akhirnya pada
satu titik gw sadar, bahwa dalam
hidup, selain idealis gw juga harus
realistis. Apa yang gw hadapi,
orang-orang yang gw temui, kejadian
yang gw lihat dengan mata kepala gw sendiri selama 1 tahun lebih
menyandang predikat jobless membuka
mata dan hati gw. Gw harus berani mencoba sebelum
memutuskan. Gw sadar gw gak bisa terus bertahan pada satu
zona yang membuat gw nyaman dan
merasa aman. Dan gw belajar bahwa apa
yang gw inginkan tidak selalu mudah gw dapatkan, hidup juga butuh perjuangan
rigth?
Tidak seperti orang lain yang tahu pasti apa tujuan
hidupnya, gw adalah orang yang
percaya pada takdir yang akan menggiring gw
pada akhir yang seharusnya. Gw tau
itu salah, karena hidup selalu punya pilihan. Tidak salah menjadi seorang
idealis ketika kita tahu apa yang kita inginkan dan bagaimana cara untuk
mendapatkannya. Dan tidak ada yang salah dengan berusaha mencoba, keluar dari
zona nyaman dan mencicipi dunia baru. Traveling dan bertemu dengan orang baru
mengajarkan gw hal itu. So, guys! Ayo pack barang-barangmu dan jelajahi dunia
luar! Salam Kuncir dari gw yang susah lepas dari kunciran! :)
Karena hidup tidak melulu tentang apa yang kita
inginkan.
Kamis, 09 November 2017
Let me tell you something: Keuangan dan Hobi Traveling
Let me tell
you something: Keuangan dan Hobi Traveling
Source: Google.com
Setelah sekian lama gw gak nulis di blog ini
yang mungkin kalau dianalogikan sebagai sebuah ruangan, ini akan banyak
dipenuhi debu dan jaring laba-laba di mana pun. Oke gak lucu!
Maaf! Mungkin selama ini blog ini hanya dipenuhi dengan tulisan melankolis,
sekarang gw akan berusaha untuk sedikit lebih berwarna dari sebelumnya
:)
Kesempatan ini akan gw gunakan untuk bercerita
mengenai hobi traveling gw yang mungkin terlihat membutuhkan
biaya yang tidak sedikit. To be honest, kebanyakan perjalanan yang gw
lakukan adalah jenis perjalanan low budget atau cenderung backpacker,
perjalanan low budget-nya biasanya masih sekitaran Bogor ke lokasi
wisata alam yang biasanya lebih sering ke curug (air terjun) atau taman
nasional untuk trekking. Gw jalan paling jauh kemana sih?
Luar Bogor paling baru Pulau Seribu (masih Jakarta yaa ini), Sukabumi
dan Jogjakarta. Ini lebih ke backpacker dengan fasilitas semurah-murahya
:D Gw bukan orang yang mengharuskan traveling mewah, asal gw nyaman
gw jabanin (nyaman relatif sih yaa), traveling buat
gw adalah destinasi bukan akomodasinya (asyik gak tuh? Bold cetak
miring hahaha). Sebenarnya gw lebih realistis dengan keuangan.
Saat ini gw masih jobless dan masih luntang lantung di negeri
orang dengan keuangan yang 100%nya masih disokong dari rumah dengan jumlah yang
sama sejak gw kuliah dan tinggal di Bogor (itupun sudah termasuk biaya
tinggal gw di kostan). Kurang tau sih dengan uang saku gw
yang segitu termasuk gede atau enggak, yang pasti buat gw
uang segitu cukup bahkan kadang lebih, dan dari situlah biaya traveling
gw selama ini. Gw gak berani minta uang lebih untuk hobi gw
ini, karena menurut gw ini adalah tanggung jawab gw terhadap diri
gw sendiri. Gimana enggak? yang jalan-jalan gw,
yang nikmatin gw, yang senang-senang gw masa gw harus
membebankan orang tua untuk itu? gw cukup tau diri dengan keadaan gw
yang ‘sekarang’ dan masih dikirim uang bulanan. Kalau ditanya jumlahnya mungkin
setelah dikurang biaya kostan, uang bulanan gw masih setengahnya UMR
Bogor nah kira-kira segitu, gw gak mau kasih tau
secara gamblang ah dan silakan nilai itu termasuk gede atau
kecil.
Tinggal jauh dari keluarga sedikit banyak membuat gw
paham tentang manajemen keuangan, setidaknya demi keberlangsungan hidup gw
selama satu bulan kedepan setelah mendapat kiriman uang. Menentukan mana yang
harus diprioritaskan, harus pandai memilah mana hal yang benar-benar dibutuhkan
dan mana yang hanya sekedar keinginan. Menyesuaikan keuangan dengan keadaan
genting, apalagi saat masih kuliah yang mengharuskan print laporan
minimal 2-3 laporan tiap minggunya. Saat itu yang menjadi prioritas utama
setelah biaya kostan adalah biaya laporan, jadi harus menekan keinginan untuk
belanja atau sekedar makan di tempat fancy, daripada gak makan
diakhir bulan kan? :D. Beruntung jurusan kuliah gw lebih sering
mengharuskan gw untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, walaupun untuk
mendapatkan data laporan dipertemuan berikutnya, tapi setidaknya bisa sedikit
cuci mata (lah jadi curhat). Kembali ke pengaturan keuangan gw,
prioritas utama gw hingga 1 tahun setelah resmi menjadi alumni adalah
tempat tinggal. Kemudian berlanjut pada kebutuhan pangan. Gw selama ini gak
punya patokan biaya untuk makan, kalau bisa yaa semurah-murahnya. Sesekali
belanja dan makan di tempat fancy juga gak masalah, asal masih
dalam batas wajarnya gw, karena ‘batas wajar’ itu relatif. Nah dengan
sisa uang bulanan itulah gw bisa traveling atau sekedar jalan
mengusir suntuk seperti ke curug. Traveling itu gak harus mahal,
yang penting bisa menikmati setiap destinasi yang dikunjungi, setidaknya
begitulah menurut gw. Tiket masuk destinasinya mungkin tidak bisa
ditawar, tapi kita masih bisa memilih makanan, transportasi dan penginapan yang
murah tapi tetap enak dan nyaman. Jadi, Ayo jalan-jalan! Selagi masih ada
kesempatan. Karena kadang punya uang saja tidak akan berarti jika kita tidak
memiliki waktu untuk traveling atau sekedar jalan sebentar karena
padatnya aktivitas. Manusia itu butuh refreshing loh paling tidak
dengan sedikit berekreasi :) Oh ya, mengenai gambar yang gw sisipkan di
atas bisa dikaitkan dengan traveling, kira-kira maksudnya seperti ini:
- Saat Remaja : Punya waktu dan tenaga, tapi tidak punya banyak uang untuk traveling
- Saat Bekerja : Punya uang dan tenaga, tapi tidak punya waktu untuk traveling
- Saat Hari Tua : Punya uang dan waktu, tapi tidak punya tenaga untuk traveling
Jadi, semua itu tergantung kepada diri kita sendiri,
kepada kemampuan kita untuk dapat memanajemen waktu, tenaga dan uang yang kita
miliki :)
Langganan:
Postingan (Atom)

