Jumat, 12 Juni 2020

Menulis, (bagi gw) Adalah Healing

Halo! Sudah begitu lama sejak terakhir kali gw menulis di blog ini. Gw gak tau gimana eksistensi blog dimasa ini, tapi ya, gw gak peduli. Gw hanya akan menulis apa yang mau gw tulis. Terima Kasih sudah mampir. Salam hangat :)

Menulis, (bagi gw) Adalah Healing.


Menulis bagi gw seperti healing. Menyembuhkan. Tidak jarang akhirnya gw mendapati diri gw yang sudah bersiap tidur, dengan lampu yang sudah dipadamkan, kemudian merangkak turun dari tempat tidur mencari pulpen dan secarik kertas, atau kadang langsung menulis di notes di telepon genggam. Bagi gw, segala kegelisahan tentang apapun terlalu sering muncul ketika gw bersiap tidur. Ketika gw selesai merapal do’a dan ucapan terima kasih kepada sang pencipta. Ketika gw sudah mulai menarik selimut dan menemukan posisi terbaik untuk terlelap. Kemudian, ting, seperti sebuah lampu yang menyala berbagai pikiran dan kegelisahan datang menghampiri gw. Terkadang, gw bisa melepaskan segalanya dengan berpura-pura sedang baik-baik saja dan tidak memikirkan apa-apa. Namun kadang, pikiran-pikiran itu dengan rakus menggerogoti relung pikiran, bahkan hingga ke jiwa, perasaan, yang kemudian semakin sesak dan butuh pelampiasan.  Tidak jarang berbagai potongan kenangan, dialog yang pernah terjadi maupun yang hanya bayangan berputar di kepala. Hal-hal seperti itulah yang kemudian gw tulis di secarik kertas apapun yang gw temukan, atau di notes di telepon genggam. Tidak jarang perasaan-perasaan dan kenangan itu membuat gw tenggelam kemudian menangis, marah, ataupun tersenyum bahagia. Tulisan-tulisan itu, tercurahkan bersama emosi yang gw rasakan saat menulis. Emosi yang akhirnya dapat gw rilis. Hingga akhirnya gw bisa tenang terlelap. Tulisan-tulisan itu juga yang kadang gw bagikan di media sosial milik gw. Tapi tidak jarang juga, gw merasakan emosi dari apa yang gw lihat, dari apa yang gw dengar. Itulah kenapa terkadang gw bisa berdiam sebentar, kemudian menghasilkan sebuah tulisan walau berupa satu frase atau kalimat. Menulis bagi gw adalah healing. Media untuk merilis segala emosi. Kalo kamu, gimana? Apa dan gimana kamu merilis emosi mu?

Jumat, 02 Maret 2018

Let me tell you something: About My Job



Let me tell you something: About My Job


Source : dok. pribadi


Long time no see ya! Mungkin lapak ini sudah mulai kembali berdebu :) Sepertinya! Entahlah. Gw gak tau menulis itu ada pada posisi mana dalam hidup gw. Hobi kah? Passion? atau mungkin bukan keduanya. Gw hanya menulis ketika gw ingin dan kepikiran mengenai suatu hal yang kemudian ingin gw bagikan kepada orang lain. So, this is the story... lah sok iye!

Sekarang gw ingin membahas tentang pekerjaan. Akhirnya yalord! Setelah penantian yang cukup lama, I have a job! Kata orang, pekerjaan terbaik itu adalah hobi yang dibayar. Dan sepertinya itu juga berlaku bagi gw saat ini, gak tau kalau sore, tunggu aja *loh! Iya. Gw juga gak tau sih tapi sepertinya jalan-jalan atau traveling itu termasuk hobi buat gw. Hobi adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita punya waktu (dan uang) untuk itu kan? Setidaknya begitu menurut gw. Jadi, beberapa waktu lalu gw ditawari pekerjaan oleh seorang teman. Tepatnya akhir Desember kemarin. Gak berasa sudah 2 bulan dan gw enjoy disana. Mungkin sebagian besar orang sekitar gw sudah tahu bahwa keinginan terbesar gw dari dulu adalah bekerja di lapangan, apapun itu yang berkaitan dengan alam. Pekerjaan gw saat ini fokus pada pengembangan wisata herbal di daerah Puncak Bogor, tepatnya di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Sebulan berlalu dan gw cukup puas dengan hasil kerja gw. Bagaimana tidak? My first job, dari gw sendiri yang gak berani terlalu berekspektasi, kemudian berhasil menjadi sesuatu yang jauh dari dugaan gw. It’s amazing, really! Namun kepuasan dan kebahagian gw beserta kawan-kawan disana tidak bertahan lama karena bencana banjir dan longsor pada awal Februari lalu, semua yang telah kami bangun hanyut, habis sudah. Teman-teman bisa cek instagram @wisatacitamiang.
Yah! Namanya juga hidup kan? Manusia berencana, tapi tuhan yang paling berkuasa. Bisa dipastikan banyak orang terpukul dengan bencana tersebut. Tidak terkecuali dengan mereka yang sudah datang berkunjung dan ber-selfie ria disana. Tapi waktu berjalan dan hidup akan terus berlanjut. Beberapa hari setelah kejadian, dengan mengumpulkan kepingan demi kepingan harapan dan semangat yang dimiliki, perlahan kami mulai melakukan pembenahan lokasi. Kemudian berlanjut pada perencanaan ulang lokasi dengan bentang alamnya berubah drastis, aliran sungai yang bergeser, batu-batu besar yang memenuhi sebagian kawasan wisata, semuanya kembali ke awal. Yaks! Kenapa jadi terkesan curhat dan berakhir melankolis gini ya? :)
Kembali kepada pekerjaan gw. Dulu, sekitar 3 atau 5 bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dalam proyek ini, gw sudah pernah ditawari hal yang sama oleh teman gw ini. Namun gw dengan ke-sok-tau-an gw terhadap diri sendiri menolak untuk bergabung. Alasannya, gw gak paham tanaman herbal (padahal saat kuliah sedikit banyak belajar). But look! Beberapa bulan setelahnya, dengan menekan ke-sok-idealis-annya gw, gw berhasil disana. Iya! Akhirnya pada satu titik gw sadar, bahwa dalam hidup, selain idealis gw juga harus realistis. Apa yang gw hadapi, orang-orang yang gw temui, kejadian yang gw lihat dengan mata kepala gw sendiri selama 1 tahun lebih menyandang predikat jobless membuka mata dan hati gw. Gw harus berani mencoba sebelum memutuskan. Gw sadar gw gak bisa terus bertahan pada satu zona yang membuat gw nyaman dan merasa aman. Dan gw belajar bahwa apa yang gw inginkan tidak selalu mudah gw dapatkan, hidup juga butuh perjuangan rigth?
Tidak seperti orang lain yang tahu pasti apa tujuan hidupnya, gw adalah orang yang percaya pada takdir yang akan menggiring gw pada akhir yang seharusnya. Gw tau itu salah, karena hidup selalu punya pilihan. Tidak salah menjadi seorang idealis ketika kita tahu apa yang kita inginkan dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Dan tidak ada yang salah dengan berusaha mencoba, keluar dari zona nyaman dan mencicipi dunia baru. Traveling dan bertemu dengan orang baru mengajarkan gw hal itu. So, guys! Ayo pack barang-barangmu dan jelajahi dunia luar! Salam Kuncir dari gw yang susah lepas dari kunciran! :)
Karena hidup tidak melulu tentang apa yang kita inginkan.

Kamis, 09 November 2017

Let me tell you something: Keuangan dan Hobi Traveling

Let me tell you something: Keuangan dan Hobi Traveling


Source: Google.com

Setelah sekian lama gw gak nulis di blog ini yang mungkin kalau dianalogikan sebagai sebuah ruangan, ini akan banyak dipenuhi debu dan jaring laba-laba di mana pun. Oke gak lucu! Maaf! Mungkin selama ini blog ini hanya dipenuhi dengan tulisan melankolis, sekarang gw akan berusaha untuk sedikit lebih berwarna dari sebelumnya :)

Kesempatan ini akan gw gunakan untuk bercerita mengenai hobi traveling gw yang mungkin terlihat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. To be honest, kebanyakan perjalanan yang gw lakukan adalah jenis perjalanan low budget atau cenderung backpacker, perjalanan low budget-nya biasanya masih sekitaran Bogor ke lokasi wisata alam yang biasanya lebih sering ke curug (air terjun) atau taman nasional untuk trekking. Gw jalan paling jauh kemana sih? Luar Bogor paling baru Pulau Seribu (masih Jakarta yaa ini), Sukabumi dan Jogjakarta. Ini lebih ke backpacker dengan fasilitas semurah-murahya :D Gw bukan orang yang mengharuskan traveling mewah, asal gw nyaman gw jabanin (nyaman relatif sih yaa), traveling buat gw adalah destinasi bukan akomodasinya (asyik gak tuh? Bold cetak miring hahaha). Sebenarnya gw lebih realistis dengan keuangan. Saat ini gw masih jobless dan masih luntang lantung di negeri orang dengan keuangan yang 100%nya masih disokong dari rumah dengan jumlah yang sama sejak gw kuliah dan tinggal di Bogor (itupun sudah termasuk biaya tinggal gw di kostan). Kurang tau sih dengan uang saku gw yang segitu termasuk gede atau enggak, yang pasti buat gw uang segitu cukup bahkan kadang lebih, dan dari situlah biaya traveling gw selama ini. Gw gak berani minta uang lebih untuk hobi gw ini, karena menurut gw ini adalah tanggung jawab gw terhadap diri gw sendiri. Gimana enggak? yang jalan-jalan gw, yang nikmatin gw, yang senang-senang gw masa gw harus membebankan orang tua untuk itu? gw cukup tau diri dengan keadaan gw yang ‘sekarang’ dan masih dikirim uang bulanan. Kalau ditanya jumlahnya mungkin setelah dikurang biaya kostan, uang bulanan gw masih setengahnya UMR Bogor nah kira-kira segitu, gw gak mau kasih tau secara gamblang ah dan silakan nilai itu termasuk gede atau kecil.

Tinggal jauh dari keluarga sedikit banyak membuat gw paham tentang manajemen keuangan, setidaknya demi keberlangsungan hidup gw selama satu bulan kedepan setelah mendapat kiriman uang. Menentukan mana yang harus diprioritaskan, harus pandai memilah mana hal yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya sekedar keinginan. Menyesuaikan keuangan dengan keadaan genting, apalagi saat masih kuliah yang mengharuskan print laporan minimal 2-3 laporan tiap minggunya. Saat itu yang menjadi prioritas utama setelah biaya kostan adalah biaya laporan, jadi harus menekan keinginan untuk belanja atau sekedar makan di tempat fancy, daripada gak makan diakhir bulan kan? :D. Beruntung jurusan kuliah gw lebih sering mengharuskan gw untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, walaupun untuk mendapatkan data laporan dipertemuan berikutnya, tapi setidaknya bisa sedikit cuci mata (lah jadi curhat). Kembali ke pengaturan keuangan gw, prioritas utama gw hingga 1 tahun setelah resmi menjadi alumni adalah tempat tinggal. Kemudian berlanjut pada kebutuhan pangan. Gw selama ini gak punya patokan biaya untuk makan, kalau bisa yaa semurah-murahnya. Sesekali belanja dan makan di tempat fancy juga gak masalah, asal masih dalam batas wajarnya gw, karena ‘batas wajar’ itu relatif. Nah dengan sisa uang bulanan itulah gw bisa traveling atau sekedar jalan mengusir suntuk seperti ke curug. Traveling itu gak harus mahal, yang penting bisa menikmati setiap destinasi yang dikunjungi, setidaknya begitulah menurut gw. Tiket masuk destinasinya mungkin tidak bisa ditawar, tapi kita masih bisa memilih makanan, transportasi dan penginapan yang murah tapi tetap enak dan nyaman. Jadi, Ayo jalan-jalan! Selagi masih ada kesempatan. Karena kadang punya uang saja tidak akan berarti jika kita tidak memiliki waktu untuk traveling atau sekedar jalan sebentar karena padatnya aktivitas. Manusia itu butuh refreshing loh paling tidak dengan sedikit berekreasi :) Oh ya, mengenai gambar yang gw sisipkan di atas bisa dikaitkan dengan traveling, kira-kira maksudnya seperti ini:
  •     Saat Remaja : Punya waktu dan tenaga, tapi tidak punya banyak uang untuk traveling
  •     Saat Bekerja : Punya uang dan tenaga, tapi tidak punya waktu untuk traveling
  •     Saat Hari Tua : Punya uang dan waktu, tapi tidak punya tenaga untuk traveling

Jadi, semua itu tergantung kepada diri kita sendiri, kepada kemampuan kita untuk dapat memanajemen waktu, tenaga dan uang yang kita miliki :)